Aktivis Kemanusiaan Surati Presiden, OKI, dan PBB Terhadap Nasib Pengungsi Rohingya
TuguLangsa - Sejumlah aktivis dari solidaritas masyarakat Aceh untuk Kemanusiaan
dan Perdamaian (ASHP) mengirim surat keprihatinan terhadap nasib
pengungsi Rohingya, masing-masing kepada Presiden RI, Organisasi
Konferensi Islam (OKI), dan Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-Bangsa
(PBB) melalui Kantor PT Pos Indonesia Cabang Banda Aceh, Rabu (20/5).
Juru Bicara ASHP, Wirduna Tripa kepada media mengatakan, pengiriman
surat tersebut untuk meminta Presiden RI, OKI melalui perwakilannya di
Indonesia, dan PBB melalui perwakilannya di Indonesia agar memperhatikan
nasib manusia perahu tersebut.
“Kami, masyarakat Aceh, merasa penting untuk mendesak dengan
memberikan surat kepada lembaga tertinggi itu,” katanya. Menurut
Wirduna, tuntutan yang disampaikan melalui surat kepada tiga lembaga
tersebut berbeda-beda, sesuai dengan wewenangnya.
Dengan alasan
kemanusiaan, pihaknya mendesak ketiga lembaga itu memberikan perhatian
lebih dengan caranya masing-masing terhadap etnis minoritas muslim
Rohingya yang mengalami penindasan oleh Pemerintah Myanmar sejak 1962.
“Kami mendesak presiden agar melakukan diplomasi dengan Pemerintah
Myanmar untuk membahas konflik di negara itu terhadap etnis Rohingya.
Untuk sementara waktu, kita juga meminta kepada presiden agar segera
memfasilitasi pengungsi Rohingya yang terdampar di daratan Aceh,” ujar
Wirduna.
Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mereka imbau untuk aktif
mengajak negara-negara ASEAN bersama-sama menyelesaikan konflik etnis
yang terjadi di Myanmar. Bila perlu, kata Wirduna, Presiden Indonesia,
Joko Widodo, menjadi juru runding dalam penyelesaian konflik tersebut.
Desakan yang sama juga disampaikan kepada OKI yang bermarkas di
Jeddah, Arab Saudi. Pihaknya meminta agar mengajak organisasi-organisasi
negara Islam dunia, organisasi HAM internasional, dan PBB untuk
menyelesaikan konflik yang menidas umat muslim Rohingya di Myanmar. “OKI
harus mengajak negara-negara Islam agar mengintervensi PBB dan
Pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan penindasan terhadap etnis
minoritas muslim,” ungkap dia.
Sementara untuk PBB, pihaknya meminta kepada dewan keamanan
internasional yang berkantor di New York, Amarika Serikat, agar serius
menyelesaikan konflik dan mengusut kasus-kasus pelanggaran yang terjadi
di Myanmar.
Selain itu, PBB didesak memberi pengakuan secara yuridis kepada etnis
Rohingya sebagai warga negara yang sah Myanmar. Sehingga, etnis
tersebut bisa mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan kehidupan
yang layak dari pemerintah Myanmar. “Kita berharap surat kita diterima
dan disahuti oleh ketiga lembaga tersebut,” tandasnya. (mz) | Serambi Indonesia







